Bisnis Kami Tidak Mengenal Kata Tekor!!!

Super Excellent Network Bersama Meraih Kebebasan Finansial Yang Sebenarnya

Wednesday, 29 September 2010

Fakta Ilmiah ,Mengapa Wanita Jadi Gemuk Setelah Menikah??

Kalo di cermati iya sih kebanyakan orang akan gemuk setelah menikah apa lagi cewek.. nah berikut ulasannya.

Banyak wanita mengalami perubahan fisik setelah menikah. Penelitian Universitas Queensland mengungkap, mayoritas wanita terbelenggu dengan kenaikan berat badan yang cukup signifikan setelah hidup bersama pasangan.

Annete Dobson, profesor biostatistik yang terlibat dalam penelitian, mengatakan, wanita menikah usia 20-an hingga 30-an yang belum memiliki anak cenderung lebih gemuk dibandingkan wanita lajang dengan usia sama. Studi menyurvei 6.458 wanita Australia selama 10 tahun. Hasilnya, mereka yang telah menikah dan memiliki anak rata-rata mengalami kenaikan berat badan sebesar tujuh kilogram. Sedangkan mereka yang baru memiliki satu anak perempuan cenderung menjadi lebih gemuk 4,9 kilogram dibandingkan saat masih lajang.

"Apa yang kita tidak tahu adalah mengapa suatu hubungan berpengaruh pada berat wanita. Tapi, penelitian lain menunjukkan, hidup bersama pasangan akan mengubah kebiaaan makan," kata Dobson seperti dikutip dari Sydney Morning Herald. Saat masuk ke suatu hubungan pernikahan, pasangan cenderung menjalani gaya hidup 'nyaman'. Banyak waktu santai dan tanpa sadar menjadikan makanan sebagai pelampiasan. Pernikahan juga membuat banyak wanita meminggirkan masalah penampilan, seperti berhenti berolahraga. "Maka, cobalah olahraga bersama untuk menjaga tubuh ideal."

Jangan biarkan penambahan berat badan usai menikah melebihi batas ideal. Perhatikan dengan cermat grafik bobot tubuh secara teratur, terutama saat hamil. Penambahan bobot tubuh yang normal di masa kehamilan berkisar 9-11 tahun. Waspada jika penambahannya melebihi 20 kilogram.
Bagikan artikel ini ke FB, Twitter, plurk, dll.. Milik sobat dengan klik tombol dibawah..

Apakah Anda Bisa Baca Pikiran Pasangan Anda

Pasangan

Tanpa sadar, Anda dan pasangan sebenarnya bisa saling membaca pikiran. Penelitian Sydney University of Technology, Australia, mengungkap bahwa sinkronisasi kerja otak mayoritas pasangan sangat selaras.

Penelitian yang fokus untuk melihat eksistensi 'indera keenam' ini menemukan pola identik pada aktivitas otak antarpasangan yang memiliki kedekatan hubungan emosional.

Itu berarti mereka telah mencapai suatu keadaan di mana sistem saraf dalam keadaan harmonis. Keadaan ini membantu mereka saling mengetahui pikiran dan emosi masing-masing. Temuan luar biasa muncul dari analisis aktivitas otak pada pasien dan konselor dalam sesi terapi.

Sejumlah psikolog telah lama mengetahui bahwa beberapa pasangan belajar untuk berpikir seperti pasangannya. Ini memungkinkan mereka untuk 'tahu' apa yang akan dikatakan atau dipikirkan pasangannya.

Para peneliti yang terlibat percaya, sinkronisasi kerja otak ini tidak hanya berpengaruh pada pasangan, tapi juga teman dekat, dan antaranggota keluarga.

Penelitian sebatas melihat aktivitas sistem saraf, yaitu dengan mempelajari otak dan detak jantung 30 relawan selama sesi konseling. Salah satu peneliti mengungkapkan, momen penting adalah ketika otak pasien dan konselor mulai bekerja dan saling sinkronisasi dalam tahapan altered state.

"Ketika tahapan itu terjadi kita dapat dapat membaca otak dan pikiran orang lain dalam level yang dalam atau bisa dikatakan indera keenam," kata Dr. Trisha Stratford, dari Sydney University of Technology, seperti dikutip dari Daily Mail.

Selama tahapan altered state, bagian dari otak masing-masing orang dapat mengontrol sistem saraf dan denyut jantung akan berdetak secara bersamaan.

Tuesday, 28 September 2010

Ragam Bahasa

Ragam bahasa adalah varian dari sebuah bahasa menurut pemakaian. Berbeda dengan dialek yaitu varian dari sebuah bahasa menurut pemakai. Variasi tersebut bisa berbentuk dialek, aksen, laras, gaya, atau berbagai variasi sosiolinguistik lain, termasuk variasi bahasa baku itu sendiri. Variasi di tingkat leksikon, seperti slang dan argot, sering dianggap terkait dengan gaya atau tingkat formalitas tertentu, meskipun penggunaannya kadang juga dianggap sebagai suatu variasi atau ragam tersendiri.

A. Ragam bahasa berdasarkan media/sarana
Ragam bahasa Lisan
Ragam bahasa lisan adalah bahan yang dihasilkan alat ucap (organ of speech) dengan fonem sebagai unsur dasar. Dalam ragam lisan, kita berurusan dengan tata bahasa, kosakata, dan lafal. Dalam ragam bahasa lisan ini, pembicara dapat memanfaatkan tinggi rendah suara atau tekanan, air muka, gerak tangan atau isyarat untuk mengungkapkan ide.
Ragam bahasa tulis

Ragam bahasa tulisan
Ragam bahasa tulis adalah bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf sebagai unsur dasarnya. Dalam ragam tulis, kita berurusan dengan tata cara penulisan (ejaan) di samping aspek tata bahasa dan kosa kata. Dengan kata lain dalam ragam bahasa tulis, kita dituntut adanya kelengkapan unsur tata bahasa seperti bentuk kata ataupun susunan kalimat, ketepatan pilihan kata, kebenaran penggunaan ejaan, dan penggunaan tanda baca dalam mengungkapkan ide.

Contoh
Ragam bahasa lisan Ragam bahasa tulis:
1.Putri bilang kita harus pulang
Putri mengatakan bahwa kita harus pulang
2.Ayah lagi baca Koran
Ayah sedang membaca koran
3.Saya tinggal di Bogor
Saya bertempat tinggal di Bogor

B. Ragam Bahasa Berdasarkan Penutur
Ragam bahasa berdasarkan daerah disebut ragam daerah (logat/dialek). Luasnya pemakaian bahasa dapat menimbulkan perbedaan pemakaian bahasa. Bahasa Indonesia yang digunakan oleh orang yang tinggal di Jakarta berbeda dengan bahasa Indonesia yang digunakan di Jawa Tengah, Bali, Jayapura, dan Tapanuli. Masing-masing memilikiciri khas yang berbeda-beda. Misalnya logat bahasa Indonesia orang Jawa Tengah tampak padapelafalan/b/pada posisiawal saat melafalkan nama-nama kota seperti Bogor, Bandung, Banyuwangi, dll. Logat bahasa Indonesia orang Bali tampak pada pelafalan /t/ seperti pada kata ithu, kitha, canthik, dll.
Ragam bahasa berdasarkan pendidikan penutur. Bahasa Indonesia yang digunakan oleh kelompok penutur yang berpendidikan berbeda dengan yang tidak berpendidikan, terutama dalam pelafalan kata yang berasal dari bahasa asing, misalnya fitnah, kompleks,vitamin, video, film, fakultas. Penutur yang tidak berpendidikan mungkin akan mengucapkan pitnah, komplek, pitamin, pideo, pilm, pakultas. Perbedaan ini juga terjadi dalam bidang tata bahasa, misalnya mbawa seharusnya membawa, nyari seharusnya mencari. Selain itu bentuk kata dalam kalimat pun sering menanggalkan awalan yang seharusnya dipakai.
contoh:
1.Ira mau nulis surat à Ira mau menulis surat
2.Saya akan ceritakan tentang Kancil à Saya akan menceritakan tentang Kancil.
Ragam bahasa berdasarkan sikap penutur. Ragam bahasa dipengaruhi juga oleh setiap penutur terhadap kawan bicara (jika lisan) atau sikap penulis terhadap pembawa (jika dituliskan) sikap itu antara lain resmi, akrab, dan santai. Kedudukan kawan bicara atau pembaca terhadap penutur atau penulis juga mempengaruhi sikap tersebut. Misalnya, kita dapat mengamati bahasa seorang bawahan atau petugas ketika melapor kepada atasannya. Jika terdapat jarak antara penutur dan kawan bicara atau penulis dan pembaca, akan digunakan ragam bahasa resmi atau bahasa baku. Makin formal jarak penutur dan kawan bicara akan makin resmi dan makin tinggi tingkat kebakuan bahasa yang digunakan. Sebaliknya, makin rendah tingkat keformalannya, makin rendah pula tingkat kebakuan bahasa yang digunakan.
Bahasa baku merupakan ragam bahasa yang dipakai dalam situasi resmi/formal, baik lisan maupun tulisan.

Bahasa baku dipakai dalam:
a)Pembicaraan di muka umum, misalnya pidato kenegaraan, seminar, rapat dinas memberikan kuliah/pelajaran.
b)Pembicaraan dengan orang yang dihormati, misalnya dengan atasan, dengan guru/dosen, dengan pejabat.
c)Komunikasi resmi, misalnya surat dinas, surat lamaran pekerjaan, undang-undang.
d)Wacana teknis, misalnya laporan penelitian, makalah, tesis, disertasi.

Segi kebahasaan yang telah diupayakan pembakuannya meliputi:
a)Tata bahasa yang mencakup bentuk dan susunan kata atau kalimat, pedomannya adalah buku Tata Bahasa Baku Indonesia;
b)Kosa kata berpedoman pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI);
c)Istilah kata berpedoman pada Pedoman Pembentukan Istilah;
d)Ejaan berpedoman pada Ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan (EYD);
e)Lafal baku kriterianya adalah tidak menampakan kedaerahan.

C. Ragam bahasa menurut pokok persoalan atau bidang pemakaian
Dalam kehidupan sehari-hari banyak pokok persoalan yang dibicarakan. Dalam membicarakan pokok persoalan yang berbeda-beda ini kita pun menggunakan ragam bahasa yang berbeda. Ragam bahasa yang digunakan dalam lingkungan agama berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam lingkungan kedokteran, hukum, atau pers. Bahasa yang digunakan dalam lingkungan politik, berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam lingkungan ekonomi/perdagangan, olah raga, seni, atau teknologi. Ragam bahasa yang digunakan menurut pokok persoalan atau bidang pemakaian ini dikenal pula dengan istilah laras bahasa.
Perbedaan itu tampak dalam pilihan atau penggunaan sejumlah kata/peristilahan/ungkapan yang khusus digunakan dalam bidang tersebut, misalnya masjid, gereja, vihara adalah kata-kata yang digunakan dalam bidang agama; koroner, hipertensi, anemia, digunakan dalam bidang kedokteran; improvisasi, maestro, kontemporer banyak digunakan dalam lingkungan seni; pengacara, duplik, terdakwa, digunakan dalam lingkungan hukum; pemanasan, peregangan, wasit digunakan dalam lingkungan olah raga. Kalimat yang digunakan pun berbeda sesuai dengan pokok persoalan yang dikemukakan. Kalimat dalam undang-undang berbeda dengan kalimat-kalimat dalam sastra, kalimat-kalimat dalam karya ilmiah, kalimat-kalimat dalam koran/majalah, dll. Contoh kalimat yang digunakan dalam undang-undang.

Macam-Macam dan Jenis-Jenis Ragam / Keragaman Bahasa:
1.Ragam bahasa pada bidang tertentu seperti bahasa istilah hukum, bahasa sains, bahasa jurnalistik, dsb.
2.Ragam bahasa pada perorangan atau idiolek seperti gaya bahasa mantan presiden Soeharto, gaya bahasa benyamin s, dan lain sebagainya.
3.Ragam bahasa pada kelompok anggota masyarakat suatu wilayah atau dialek seperti dialek bahasa madura, dialek bahasa Medan, dialek bahasa sunda, dialek bahasa Bali, dialek bahasa jawa, dan lain sebagainya.
4.Ragam bahasa pada kelompok anggota masyarakat suatu golongan sosial seperti ragam bahasa orang akademisi beda dengan ragam bahasa orang-orang jalanan.
5.Ragam bahasa pada bentuk bahasa seperti bahasa lisan dan bahasa tulisan.
6.Ragam bahasa pada suatu situasi seperti ragam bahasa formal (baku) dan informal (tidak baku).

Jenis ragam bahasa
Berdasarkan pokok pembicaraan, ragam bahasa dibedakan antara lain atas:
-Ragam bahasa undang-undang
-Ragam bahasa jurnalistik
-Ragam bahasa ilmiah
-Ragam bahasa sastra

Berdasarkan media pembicaraan, ragam bahasa dibedakan atas:
Ragam lisan yang antara lain meliputi:
-Ragam bahasa cakapan
-Ragam bahasa pidato
-Ragam bahasa kuliah
-Ragam bahasa panggung

Ragam tulis yang antara lain meliputi:
-Ragam bahasa teknis
-Ragam bahasa undang-undang
-Ragam bahasa catatan
-Ragam bahasa surat
Ragam bahasa menurut hubungan antarpembiacra dibedakan menurut akrab tidaknya pembicara:
-Ragam bahasa resmi
-Ragam bahasa akrab
-Ragam bahasa agak resmi
-Ragam bahasa santai
-dan sebagainya